Di tengah dunia yang makin terfragmentasi, diplomasi perdagangan bukan lagi urusan para diplomat semata. Itulah pesan utama yang dibawa Ari Satria ke hadapan lebih dari 100 peserta International Youth Leadership Academy (IYLA) Batch 2 — sebuah ajakan bagi generasi muda untuk memahami dan kelak meneruskan estafet kerja sama ekonomi internasional Indonesia.
Forum IYLA & National Leader Forum (NLF) 2026 diselenggarakan pada 31 Agustus 2026 secara hibrida dari Studio IBI KKG (Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie), Sunter, Jakarta. Peserta dari berbagai penjuru Indonesia dan luar negeri mengikuti sesi panel bertajuk "Kerjasama dan Diplomasi Perdagangan" melalui Zoom, dengan tema besar "Global Leadership and Diplomacy Academy."
Perdagangan Global Sedang Pulih — dan FTA Menjadi Kunci
Ari Satria membuka presentasinya dengan data yang menggembirakan sekaligus menantang. Sejak 2024, perdagangan dunia menunjukkan tren pemulihan: volume perdagangan barang global tumbuh 2,9% dan nilai perdagangan barang serta jasa menembus USD 32,2 triliun. Namun di balik angka itu, persaingan makin keras.
Sejak 1990-an, jumlah perjanjian perdagangan regional (Regional Trade Agreements/RTA) — termasuk Free Trade Agreement (FTA) — meningkat drastis dan terus bertambah hingga 2025. Ini menegaskan satu hal: FTA bukan lagi sekadar pilihan, melainkan instrumen kebijakan perdagangan modern yang wajib dikuasai.
Di antara 25 perjanjian yang sudah berjalan terdapat nama-nama besar: Indonesia-Japan EPA, Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-Korea CEPA, ASEAN-China FTA, hingga RCEP. Sementara perjanjian yang sedang dinegosiasikan mencakup Indonesia-EU CEPA, ASEAN-Canada FTA, Indonesia-GCC FTA, dan Indonesia-Mercosur CEPA.
Tantangan yang Harus Dihadapi
Diplomasi perdagangan Indonesia tidak berjalan di atas jalan mulus. Ari Satria memetakan tujuh tantangan besar yang mengepung negosiator Indonesia di meja perundingan global:
- Ketegangan geopolitik global yang semakin memanas
- Proteksionisme, polarisasi ekonomi, dan trade war antara kekuatan-kekuatan besar
- Melemahnya peran WTO dalam tata kelola perdagangan multilateral
- Keruntuhan rules-based trading system akibat tarif unilateral yang meningkat
- Transisi menuju green economy dan blue economy yang menuntut adaptasi cepat
- Meningkatnya hambatan perdagangan non-tarif (NTMs) di berbagai negara mitra
- Krisis iklim yang memengaruhi rantai pasok global
Tiga Jalur, Satu Strategi
Indonesia menjawab tantangan ini dengan multi-track strategy: menjalankan negosiasi secara paralel di tiga jalur sekaligus, untuk meningkatkan nilai ekspor dan memberikan insentif nyata bagi pelaku ekonomi nasional.
Bilateral
Perundingan antara dua negara atau pihak, seperti reaktivasi perundingan Indonesia-Maroko pada Agustus 2026.
Regional
Melibatkan negara-negara dalam satu kawasan, seperti persiapan implementasi Indonesia-EU CEPA yang ditargetkan ditandatangani akhir 2026.
Multilateral
Forum internasional luas, termasuk komitmen di pertemuan Menteri Perdagangan BRICS di Jaipur untuk memperkuat sistem WTO.
Indonesia juga menyeimbangkan antara pasar tradisional (Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang) dan pasar non-tradisional (Asia Selatan & Tengah, Timur Tengah, Afrika, Eropa Timur) — karena keduanya dinilai memiliki nilai strategis yang setara bagi diversifikasi ekspor nasional.
Diplomasi Perdagangan Nyata: Tiga Contoh Terkini
Sebagai gambaran bahwa strategi ini bukan sekadar di atas kertas, Ari Satria membagikan tiga contoh konkret berdasarkan situs resmi Ditjen PPI Kemendag (ditjenppi.kemendag.go.id):
- Jalur bilateral — Indonesia & Maroko: Pada 27 Agustus 2026, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mereaktivasi perundingan perjanjian perdagangan Indonesia-Maroko, dengan target penyelesaian komprehensif pada 2027. Total perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai USD 235 juta, tumbuh 33% dari tahun sebelumnya. Maroko diproyeksikan sebagai pintu masuk ke pasar Afrika, Eropa, dan Mediterania.
- Jalur CEPA — Indonesia & Uni Eropa: Indonesia tengah mempersiapkan implementasi I-EU CEPA yang ditargetkan ditandatangani pada kuartal IV 2026. Perjanjian ini akan membuka akses ke pasar Uni Eropa dengan sekitar 450 juta konsumen, meliberalisasi sekitar 98% pos tarif, dan memberikan tarif nol persen bagi produk unggulan Indonesia seperti sawit, tekstil, alas kaki, dan produk karet.
- Jalur multilateral — Forum BRICS: Pada pertemuan Menteri Perdagangan BRICS awal Agustus 2026 di Jaipur, India, Menteri Perdagangan RI menegaskan komitmen Indonesia menjaga sistem perdagangan berbasis aturan melalui WTO yang kuat, sekaligus mendukung akses pembiayaan UMKM dan perdagangan jasa digital lintas batas.
Peran Atase Perdagangan di Lapangan
Di balik negosiasi yang berjalan di ibu kota-ibu kota dunia, ada 46 perwakilan perdagangan (Perwadag) yang tersebar di 33 negara. Atase Perdagangan menjadi ujung tombak diplomasi ekonomi Indonesia di luar negeri — menjalankan intelijen pasar, memfasilitasi business matching, mempromosikan produk nasional, serta memantau pemanfaatan FTA/CEPA oleh eksportir Indonesia agar manfaat perjanjian benar-benar terasa di lapangan.
Diplomasi perdagangan bukan hanya urusan pemerintah. Ia membutuhkan pemahaman dan keterlibatan generasi muda sebagai calon pemimpin yang akan meneruskan estafet kerja sama internasional Indonesia di masa depan.
— Ari Satria, S.E., M.A. | Direktur Pengembangan Ekspor Jasa & Produk Kreatif, Kemendag RIPesan untuk Generasi Muda
Ari Satria menutup sesinya bukan dengan angka, melainkan dengan tiga bekal yang ia anggap paling krusial bagi generasi muda yang ingin berkontribusi pada diplomasi ekonomi Indonesia:
IYLA 2026 diselenggarakan oleh Konsorsium 5 — Kappija21, Lemhannas Angkatan 222 & 223, Yayasan Sinergi Global Lintas Generasi, dan Yayasan Prakarsa Akademia Generasi Emas (PAGE). Rangkaian puncak berlangsung pada 26–29 November 2026 di Bandung, melibatkan UKRI, Museum Virajati Seskoad, Gedung Sate, dan Saung Angklung Udjo, ditutup dengan penandatanganan IYLA Declaration 2026.