Keberanian untuk melanjutkan studi ke Boston tidak terlepas dari dukungan keluarga, terutama istri saya yang menjadi pilar utama dalam perjalanan ini. Ketika saya pertama kali menyampaikan niat untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, ia menyambutnya dengan semangat. Namun, keputusan ini juga berarti bahwa kami harus berpisah sementara waktu, sebuah pengorbanan yang tidak mudah bagi kami berdua.
Saya ingat betul nasihat ibu, “Nak, ajak istrimu serta jika memungkinkan. Jangan sampai kalian berpisah selama dua tahun hanya demi pendidikan.” Kata-kata itu memberiku semangat untuk mencari jalan agar kami tetap bisa bersama. Alhamdulillah, dengan usaha dan sedikit keberuntungan, istriku bisa menyusulku ke Boston beberapa bulan kemudian.
Kehadiran istri saya di Boston menjadi kekuatan besar. Tidak hanya menemani, ia juga memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya sendiri. Dengan kerja keras, ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk program Master of Education. Saya sangat bangga melihatnya mengatasi tantangan di negeri asing, bahkan mencetak skor TOEFL yang lebih tinggi daripada saya. Keberhasilan kami berdua adalah bukti bahwa mimpi besar bisa diraih bersama dengan saling mendukung.