Sejak kecil, ITB telah menjadi cita-cita yang membara di hati saya. Bagi saya, ITB bukan sekadar kampus, melainkan simbol dari kesuksesan dan kebanggaan keluarga. Orang tua saya, keduanya alumni ITB, sering bercerita tentang perjuangan mereka di kampus tersebut, membuat semangat saya untuk mengikuti jejak mereka semakin berkobar. Ayah saya yang berasal dari daerah dan ibu saya yang lahir serta besar di Jakarta, merupakan salah satu dari sedikit perempuan di jurusan Teknik Sipil ITB pada masanya, adalah sumber inspirasi yang tak pernah padam. Kenangan indah menghabiskan satu tahun pertama di Bandung semakin memantapkan tekad saya untuk berkuliah di sana.
Setelah lulus dari SMA 70 pada tahun 1985, saya memberanikan diri untuk mengikuti seleksi masuk ITB. Dengan penuh keyakinan, saya memilih Teknik Sipil ITB sebagai pilihan pertama dan Teknik Sipil UI sebagai pilihan kedua. Sebagai langkah antisipasi, saya juga mendaftar di Fakultas Ekonomi UI dan beberapa perguruan tinggi swasta, termasuk Teknik Sipil di Universitas Trisakti. Saya begitu yakin dengan persiapan yang telah saya lakukan dan berharap bisa lolos ke ITB. Bahkan, malam sebelum pengumuman, saya masih sempat berjalan-jalan di Gramedia Blok M untuk mencari meja gambar, seolah-olah saya sudah pasti akan menjadi mahasiswa teknik.
Namun, takdir berkata lain. Pagi itu, saya menerima kabar yang sangat jauh dari harapan. Seorang teman yang mendapatkan bocoran hasil seleksi memberi tahu bahwa saya diterima di Fakultas Ekonomi UI, bukan di Teknik Sipil ITB atau UI. Hati saya hancur. Ini bukanlah rencana yang saya impikan.
Saya kemudian berdiskusi dengan ibu saya. Saya dihadapkan pada dua pilihan sulit: tetap mengejar impian Teknik Sipil dengan berkuliah di Trisakti, yang saat itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, atau menerima kenyataan dan memilih Ekonomi UI yang lebih terjangkau. Setelah melalui pertimbangan yang matang, saya akhirnya memutuskan untuk memilih Ekonomi UI, meskipun bidang itu terasa sangat asing bagi saya. Ibu saya mencoba menenangkan saya dengan berkata, “Nak, hidup ini tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik untukmu.”
Saya masih menyimpan secercah harapan untuk bisa masuk ITB. Oleh karena itu, pada tahun 1986, saya kembali mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi masuk ITB untuk yang kedua kalinya. Kali ini, saya mempersiapkan diri dengan lebih sungguh-sungguh. Saya belajar lebih giat, mengikuti bimbingan belajar, dan berusaha memperbaiki kekurangan-kekurangan yang saya miliki sebelumnya. Namun, hasilnya tetap sama. Saya kembali gagal.
Kegagalan yang kedua ini menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya akhirnya mulai menerima bahwa mungkin jalan yang telah ditakdirkan untuk saya bukanlah di ITB, melainkan di UI. Meskipun awalnya saya merasa asing dengan ilmu ekonomi, lama-kelamaan saya mulai memahami dan menikmati bidang yang saya pelajari. Saya mulai menyadari bahwa ada banyak peluang menarik di dunia ekonomi yang tidak kalah dengan teknik.
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa terkadang jalan hidup tidak selalu sesuai dengan rencana yang kita buat. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah perjalanan baru yang mungkin lebih indah. Meskipun saya tidak pernah menjadi bagian dari ITB seperti yang saya cita-citakan, saya tetap bersyukur atas segala yang telah saya alami. Tuhan memang memiliki cara-Nya sendiri untuk membawa kita ke tempat yang paling tepat untuk kita.