Mengikuti proses seleksi untuk posisi eselon 1 merupakan pengalaman yang penuh tantangan. Selama sepuluh kali mencoba, enam kali saya berhasil masuk ke tiga besar, namun belum juga mendapatkan posisi yang diimpikan. Rasanya seperti berlari tanpa pernah mencapai garis finis. Setiap kali harapan muncul, kenyataan berkata lain.
Namun, saya tidak pernah melihat kegagalan sebagai akhir dari segalanya. Justru, setiap kegagalan membawa pelajaran berharga yang memperkaya perjalanan saya. Saya percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana, dan saya hanya perlu terus berusaha dengan sebaik mungkin.
Kesempatan untuk terus belajar menjadi hal yang saya manfaatkan sebaik-baiknya. Saya mengikuti berbagai pelatihan, termasuk “Microeconomics of Competitiveness: Firms, Clusters, and Economic Development,” sebuah program yang diadakan melalui kerja sama antara Universitas Indonesia dan Harvard University pada tahun 2004. Program ini membuka mata saya terhadap dinamika ekonomi global dan bagaimana konsep-konsep ekonomi dapat diterapkan untuk meningkatkan daya saing suatu negara.
Di tengah perjalanan ini, dukungan keluarga menjadi pilar utama. Ayah saya, yang pernah menjadi pegawai negeri sebelum beralih menjadi pengusaha, sering berbagi pengalaman dan memberikan nasihat berharga. Sejak tahun 2014-2015, saya sering berdiskusi dengannya tentang pengalaman mengikuti bidding. “Kadang saya merasa sudah melakukan yang terbaik, tapi kenyataan berkata lain,” ujar saya suatu hari. Ayah hanya tersenyum dan berkata, “Jangan hanya mengandalkan kemampuan, bangun juga jaringan yang kuat.” Kata-kata itu terus membekas dalam ingatan saya.
Kepergian ayah pada tahun 2020 meninggalkan duka mendalam, terutama karena beliau belum sempat melihat saya meraih posisi yang saya perjuangkan. Namun, saya yakin beliau bangga dengan usaha saya. Ibunda saya, meskipun mengalami demensia, tetap menjadi sumber inspirasi. Saya merasa memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan mimpi yang juga menjadi impian orang tua saya.
Dalam perjalanan karier, saya juga belajar tentang pentingnya ketelitian dan pelayanan yang prima. Mengurus perjalanan dinas, memastikan kenyamanan atasan, dan memperhatikan detail sekecil apa pun menjadi bagian dari tugas yang saya lakukan dengan penuh tanggung jawab. Saya percaya bahwa hal-hal kecil, seperti memilih kamar hotel yang sesuai preferensi atasan atau memastikan jadwal perjalanan berjalan lancar, bisa membuat perbedaan besar.
Pernah suatu ketika, seorang atasan berkata, “Ari, dengan kamu, saya merasa seperti bos beneran karena semuanya sudah diurus dengan rapi.” Ucapan itu menguatkan keyakinan saya bahwa profesionalisme dalam hal sekecil apa pun akan selalu dihargai.
Kini, saya melihat kegagalan bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti, tetapi sebagai bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Saya terus melangkah dengan keyakinan bahwa setiap pengalaman, baik manis maupun pahit, membawa pelajaran yang membuat saya lebih siap menghadapi masa depan. Saya selalu berkata kepada diri sendiri, “Jangan berhenti, Ari. Ini semua bagian dari perjalananmu.”