Dari Lorong Bulungan hingga Panggung Global: Kisah Inspiratif Ari Satria Membangun Negeri

Dari Lorong Bulungan hingga Panggung Global: Kisah Inspiratif Ari Satria Membangun Negeri

Redaksi ariberbagi.com

Kalau kita bicara soal birokrasi, mungkin yang terbayang adalah tumpukan kertas dan wajah-wajah serius. Tapi, obrolan dengan Ari Satria, S.E., M.A., di kanal YouTube Ikalumni SMA 70 baru-baru ini, justru membuyarkan kesan itu. Sosok Direktur di Kementerian Perdagangan RI ini ternyata punya cerita masa remaja yang sangat "bumi" dan jenaka.


Bayangkan saja, seorang pejabat tinggi negara yang sudah malang melintang di dunia internasional ini masih ingat betul rasanya jadi anak bawang di SMA 70 Jakarta tahun 1982. Ari bercerita sambil tertawa bagaimana dulu ia sempat merasakan pengalaman "dipalak" kakak kelas—sebuah "bumbu" wajib di sekolah legendaris kawasan Bulungan itu.

Namun, siapa sangka remaja yang dulu melewati ujian mental di lorong sekolah tersebut, kini justru menjadi salah satu punggawa utama yang menjaga marwah ekonomi kreatif Indonesia di kancah global.

Intelektualitas yang Tak Pernah Puas

Karier cemerlang pria kelahiran Bandung, 27 Januari 1967 ini, memang tidak jatuh dari langit. Ari adalah contoh nyata dari pepatah bahwa pendidikan adalah investasi terbaik. Lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) tahun 1993, ia tidak lantas berpuas diri.

Langkah besarnya berlanjut ke Amerika Serikat, di mana ia meraih gelar Master of Arts (M.A.) di bidang Ekonomi Internasional dari Boston University pada tahun 2000. Tak cukup sampai di situ, ia juga mempertajam naluri ekonominya lewat berbagai program di Harvard University dan University of Colorado. Bekal "otak global" inilah yang membuatnya begitu lihai menavigasi kebijakan dagang, mulai dari memimpin ITPC di Busan hingga menjadi Atase Perdagangan di Seoul, Korea Selatan.

Menjaga Nafas di Bawah Tujuh Garuda

Ada satu fakta menarik yang bikin kita angkat topi: Ari sudah mengabdi selama 32 tahun sebagai ASN. Selama rentang waktu itu, ia telah bekerja di bawah kepemimpinan tujuh Presiden Indonesia, mulai dari era Presiden Soeharto hingga saat ini.

"Tidak ada pekerjaan yang sempurna," tutur Ari dengan nada santai namun dalam. Bagi beliau, kunci bertahan bukan dengan mencari kenyamanan, melainkan dengan kemampuan beradaptasi tanpa harus mengorbankan integritas. Keikhlasan itulah yang membawanya blusukan ke 34 provinsi dan berkeliling dunia demi memastikan produk-produk kebanggaan anak bangsa punya tempat terhormat di rak-rak internasional.

Misi ‘Menduniakan’ Kreativitas Lokal

Kini, sebagai Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif, Ari punya mandat yang menantang. Ia ingin memastikan karya-karya kreatif kita—entah itu fashion, musik, film, hingga teknologi—tidak cuma "jago kandang". Ia memposisikan diri sebagai jembatan yang menghubungkan imajinasi para kreator lokal dengan standar kebutuhan pembeli di luar negeri.

Di tengah kesibukan birokrasi yang padat, sisi humanis Ari tetap menyala. Terinspirasi dari sosok guru SD-nya yang berdedikasi, ia sempat meluangkan waktu menjadi dosen di almamaternya, UI, selama delapan tahun. Bagi Ari, semangat "berbagi" ilmu adalah cara terbaik untuk memberi kembali kepada masyarakat dan kembali ke cita-cita masa kecilnya.

Meraih ‘Piala’ di Hati Sesama

Meski punya segudang prestasi dan jabatan mentereng, Ari tetaplah sosok yang membumi. Di akhir obrolannya, ia menitipkan sebuah pesan yang sangat menyentuh bagi kita semua, apa pun profesi yang sedang kita jalani:

"Lakukan saja yang terbaik di profesi kita. Mungkin kita tidak meraih penghargaan formal seperti Piala Citra atau Oscar, tapi setidaknya kita bisa meraih ‘piala’ di hati orang-orang di sekitar kita dengan menjadi manfaat bagi mereka."

Kisah Ari Satria mengingatkan kita bahwa titik awal yang penuh tantangan bukanlah penghalang. Dari lorong sekolah di Bulungan, menembus dinginnya Boston dan Seoul, hingga kembali untuk membangun negeri, Ari membuktikan bahwa dengan mentalitas pembelajar dan hati yang tulus untuk berbagi, siapa pun bisa melangkah jauh.

Scroll to Top