Dalam obrolan santai namun sarat makna, Ari mengungkapkan potensi luar biasa yang dimiliki Indonesia di bidang ekonomi kreatif. “Dari Sabang sampai Merauke, kearifan lokal kita tak akan pernah habis digali,” ujarnya, menyoroti kekayaan seni tradisional seperti batik, anyaman rotan, hingga kerajinan khas daerah yang memiliki nilai jual tinggi di pasar global.
Menurut Ari, salah satu tantangan terbesar adalah stigma yang menganggap produk lokal terlalu “etnik” dan kurang modern. Untuk menjawab hal ini, kolaborasi antara desainer muda dan pelaku usaha diperlukan, dengan dukungan penuh dari pemerintah. “Kementerian Perdagangan berperan sebagai mak comblang, mempertemukan produsen lokal dengan buyer internasional, sekaligus memberikan akses ke tren global,” jelasnya.
Ari juga membagikan pengalaman pribadinya saat bertugas di Korea Selatan pada masa awal gelombang K-Pop dan K-Drama. Ia menyebut, keberhasilan Korea saat ini adalah buah dari perencanaan strategis selama 30 tahun. “Indonesia juga bisa mencapai itu, asal kita punya peta jalan yang jelas dan konsisten melaksanakannya,” tegasnya.
“Kita tidak bisa berharap orang lain mencintai Indonesia kalau kita sendiri tidak mencintainya,” kata Ari menutup wawancara dengan DOT Podcast.
Melalui dukungan pemerintah, kolaborasi antar komunitas, dan semangat pantang menyerah, Ari percaya bahwa Indonesia akan terus maju sebagai negara dengan kekuatan ekonomi kreatif yang diakui dunia.
Notifikasi