Akselerasi Peluang Pertumbuhan Perdagangan Produk Ekonomi Kreatif

Indonesia sedang dalam tren positif pada kinerja perdagangan yang selalu mencatat surplus neraca perdagangan selama lebih dari 4 tahun terakhir. Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah agar dapat terus mempertahankan tren positif ini, salah satunya melalui pengembangan perdagangan barang dan jasa dari sektor produk ekonomi kreatif.

Langkah nyata dalam upaya tersebut terus dilakukan oleh Kementerian Perdagangan, salah satunya melalui peluncuran Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2025 pada Rabu, 17 Juli 2024 sebagai salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam mendukung perkembangan sektor ekonomi kreatif.

Ari Satria, Sekretaris Badan Kebijakan Perdagangan
Ari Satria, Sekretaris Badan Kebijakan Perdagangan (Klik untuk memperbesar)

JMFW merupakan salah satu program prioritas sesuai amanat Presiden RI untuk mengembangkan modest fashion Indonesia di dunia internasional. Pada tahun ini JMFW akan diselenggarakan pada 9-12 Oktober 2024 di ICE BSD City.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang ekonomi kreatif, definisi dari terminologi ini adalah perwujudan nilai tambah dari kekayaan intelektual yang bersumber dari kreativitas manusia yang berbasis warisan budaya, ilmu pengetahuan, dan atau teknologi.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat kontribusi sektor ini terhadap PDB Indonesia mencapai 6,54% pada tahun 2022 -bahkan kontribusi sektor ekonomi kreatif bisa lebih besar karena kontribusi dari subsektor jasa kreatif belum seluruhnya tercatat-. Kuliner, fashion, dan kriya menjadi tiga subsektor dengan kontribusi terbesar dalam PDB Indonesia dari sektor ekonomi kreatif.

Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, terdapat 17 sub sektor ekonomi kreatif baik barang ataupun jasa yang menjadi prioritas dan dapat dikembangkan guna menunjang pertumbuhan kinerja perdagangan dan mempertahankan atau bahkan meningkatkan surplus pada neraca perdagangan Indonesia.

Ke 17 sub sektor ekonomi kreatif tersebut adalah pengembang permainan; arsitektur; desain interior; musik; seni rupa; desain produk; fesyen; kuliner; film, animasi, dan video; fotografi; desain komunikasi visual; televisi dan radio; kriya; periklanan; seni pertunjukan; penerbitan; dan aplikasi.

Sektor ekonomi kreatif menjadi semakin penting untuk menjadi prioritas dalam pengembangannya karena beberapa faktor, antara lain karena sektor ini berkontribusi pada perekonomian melalui penciptaan dan penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekspor, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sektor ini juga menjadi sumber daya terbaru berbasis pengetahuan, komunitas, dan juga mendukung ekonomi hijau.

Faktor positif lain yang dimiliki oleh sektor ini adalah adanya inovasi dan kreativitas melalui penyebaran ide dan gagasan serta penciptaan nilai pada setiap hasil produksinya. Ekonomi kreatif juga bisa memberikan dampak sosial yang positif pada masyarakat karena dapat meningkatkan kualitas hidup, pemerataan kesejahteraan, serta peningkatan pendapatan pada masyarakat yang terlibat dalam setiap aktivitas produksi ekonomi kreatif.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah berkembangnya sektor ekonomi kreatif juga dapat meningkatkan citra dan identitas bangsa yang memiliki keragaman budaya serta warisan dan nilai-nilai lokal yang sangat layak untuk dikembangkan, dikenal, bahkan dipasarkan secara global.

Secara global, sektor ekonomi kreatif juga terus menunjukkan pertumbuhan kinerja yang signifikan. Berdasarkan data dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) tahun 2022, total ekspor produk barang kreatif secara global mencapai USD 524 miliar sementara total ekspor jasa global mencapai USD 1,06 triliun.

UNCTAD juga mengidentifikasi 197 produk barang kreatif yang dibagi ke dalam beberapa sub-kategori, antara lain kerajinan seperti karpet, produk yang berkaitan dengan perayaan, kerajinan lainnya, peralatan kertas anyaman, dan benang. Sub kategori lainnya adalah audio-visuals berupa film, CD, DVD, dan kaset. Kemudian desain berupa arsitektur, fashion, barang pecah belah bernilai tinggi, interior, perhiasan, dan mainan.

Sub kategori pada ekonomi kreatif lainnya adalah media baru dalam bentuk media rekaman dan video games, seni pertunjukan berupa alat musik, penerbitan dalam bentuk buku, koran, dan produk cetak lainnya, serta seni visual berupa barang antik, lukisan, foto, dan patung.

Dalam perdagangan global, porsi terbesar ekspor barang produk kreatif pada tahun 2020 berasal dari negara-negara berkembang mencapai USD 296 miliar. Sementara porsi ekspor barang kreatif dari negara maju memiliki porsi yang lebih sedikit, yakni USD 229 miliar. Kondisi ini menggambarkan bahwa potensi pertumbuhan ekonomi kreatif di negara berkembang, termasuk Indonesia jelas sangat menjanjikan karena masih banyak peluang yang dapat dieksplorasi.

Secara total, ekspor produk kreatif Indonesia pada tahun 2023 mencapai USD 9,76 miliar, tumbuh 10,08% bila dibandingkan total ekspor pada tahun 2022 yang sebesar USD 8,86 miliar. Adapun negara tujuan ekspor utama produk kreatif Indonesia pada tahun 2023 adalah Amerika Serikat dengan nilai USD 2,2 miliar, kemudian Swiss sebesar USD 2,1 miliar, dan Singapura sebesar USD 746 juta.

Ekspor produk kreatif Indonesia yang terbesar berasal dari perhiasan dan sejenisnya sebesar USD 5,42 miliar, furnitur sebesar USD 909,2 juta, wadah penyimpanan dan kontainer penyimpanan sebesar USD 765,81 juta, mainan dan sejenisnya sebesar USD 508,6 juta, alat musik sebesar USD 358,8 juta, serta rambut palsu sebesar USD 238,1 juta.

Peluang dan Tantangan Perdagangan Produk Ekonomi Kreatif di Indonesia

Pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia memiliki peluang yang dapat dikembangkan antara lain beragamnya budaya dan tradisi yang ada di Indonesia, puncak bonus demografi di Indonesia pada tahun 2038 yang diprediksi akan didominasi oleh penduduk usia muda dan produktif dengan komposisi lebih dari 60%, serta pasar luas yang dimiliki Indonesia bagi produk dan jasa kreatif.

Ilustrasi Akselerasi Ekonomi Kreatif
Ilustrasi Akselerasi Ekonomi Kreatif (Klik untuk memperbesar)

Akan tetapi, pengembangan sektor ini jelas tidak terlepas dari tantangan yang perlu terus diupayakan untuk dapat diperbaiki. Ekosistem pengembangan SDM dan daya saing ekonomi kreatif Indonesia serta kemampuan produksi masih terbatas untuk bisa memenuhi permintaan pasar. Selain itu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi belum dimanfaatkan secara optimal dan juga perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) yang belum maksimal.

Kementerian Perdagangan tidak tinggal diam untuk dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia. Beberapa upaya yang telah dilakukan adalah melalui pendampingan dalam proses sertifikasi produk ekspor berupa HACCP, halal, dan HKI, upaya pemasaran melalui misi dagang dan pameran yang dilakukan ke berbagai negara, pendampingan desain melalui Indonesia Design Development Center (IDDC), serta adanya bimbingan ekspor melalui Export Center dan FTA Center di berbagai kota di Indonesia.

Selain Jakarta Muslim Fashion Week seperti yang disebut awal, Kementerian Perdagangan juga menyelenggarakan pameran perdagangan tahunan lewat Trade Expo Indonesia (TEI) yang pada tahun ini merupakan penyelenggaraan ke 39 dan akan berlangsung back-to-back dengan JMFW pada tanggal 9-12 Oktober 2024, serta penghargaan desain terbaik Good Design Indonesia. Upaya lain yang dilakukan dalam mendukung ekspor produk ekonomi kreatif melalui kerja sama dengan lembaga dalam dan luar negeri, partisipasi dalam pameran internasional, serta menyediakan layanan informasi secara digital melalui Inaexport dan Ina digi Export.

Kementerian Perdagangan juga berpartisipasi dalam berbagai event promosi produk ekonomi kreatif di dalam dan luar negeri seperti In Store Promotion Gim Festival Indonesia, Paris Fashion Week, London Fashion Week, Interior Lifestyle Tokyo Exhibition, dan pameran kriya Ambiente di Frankfurt, Jerman.

Para pelaku usaha industri kreatif juga harus bisa melihat peluang yang ada dari lebih 30 perjanjian dagang untuk barang dan jasa, yang di antaranya juga mencakup barang dan jasa produk kreatif, baik dalam bentuk Preferential Tariff Agreement (PTA), Free Trade Agreement (FTA) maupun Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia mitra dagang di berbagai belahan dunia yang telah ditandatangani dan diimplementasikan guna memperluas pasar ekspor. Indonesia juga saat ini sedang melakukan 16 perundingan dan 14 penjajakan perjanjian dagang baik untuk barang dan jasa.

Peran 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang tersebar di berbagai negara juga seharusnya dapat berperan sebagai jembatan pemasaran produk Indonesia, termasuk produk barang dan jasa dari sektor ekonomi kreatif ke pasar global agar dapat mendorong kinerja perdagangan Indonesia.

Ke depannya, diharapkan peran produk barang dan jasa dari sektor ekonomi kreatif dapat lebih besar dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 melalui kolaborasi antara para pelaku, dunia usaha, dan juga pemerintah.

Scroll to Top